TRADISI YANG TERUS DIJAGA, WARISAN YANG TERUS HIDUP DI DESA REJOSO SEDEKAH BUMI 2026

Kemeriahan dan nuansa sakral menyatu di Desa Rejoso pada hari Rabu, 8 Juli 2026. Seluruh elemen masyarakat bersama Pemerintah Desa Rejoso kembali menggelar tradisi tahunan Sedekah Bumi dan Ruwatan Bersih Desa. Rangkaian acara ini tidak hanya diisi dengan ritual keagamaan dan doa bersama, tetapi juga semarak hiburan kesenian Campursari dan pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk.

Pelestarian adat budaya desa merupakan sebuah upaya penting untuk menjaga serta melestarikan nilai-nilai budaya dan adat istiadat di tengah masyarakat. Dengan demikian, pelestarian adat budaya desa tidak hanya berfungsi sebagai acara ritual, tetapi juga sebagai cara hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Sedekah Bumi adalah sebuah tradisi agraris yang melambangkan rasa syukur mendalam kepada Tuhan dan alam semesta yang telah memberikan rezeki melimpah. Secara turun-temurun dari warisan leluhur Jawa kuno, perayaan ini digelar sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen sekaligus medium doa agar pertanian warga ke depannya tetap lancar.

Puncak prosesi Sedekah Bumi ini dilakukan masyarakat dengan menggelar kenduri dan memanjatkan doa bersama yang dipusatkan di Dusun Kedungjati. Dalam ritual ini, warga menyajikan berbagai sesaji yang sarat akan makna simbolis, termasuk tumpeng dan gunungan hasil bumi.Penyajian sesaji dan rangkaian doa bersama ini secara langsung mencerminkan nilai-nilai keagamaan dan sosial yang kuat di masyarakat. Selain wujud syukur, rangkaian ini juga membawa tujuan ruwatan bersih desa untuk memohon perlindungan dari hal-hal negatif dalam kehidupan sehari-hari, serta membuang kesialan atau sengkolo.

Setelah rangkaian doa dan makan bersama usai, malam harinya masyarakat Desa Rejoso disuguhkan dengan panggung hiburan rakyat. Alunan musik Campursari menggema menemani warga, yang kemudian dipuncaki dengan pagelaran Wayang Kulit.

 Melalui filosofinya, perayaan Sedekah Bumi mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan menghormati hasil bumi sebagai karunia Tuhan. Pertunjukan Wayang Kulit pun melengkapi pesan tersebut, memberikan tontonan sekaligus tuntunan moral bagi warga desa.

Ruwatan bersih desa juga berperan krusial dalam pelestarian budaya serta merawat kerukunan sosial antar warga desa. Diharapkan, tradisi mulia ini terus dijaga kelestariannya oleh generasi muda di tengah arus modernisasi. /MMD Filkom UB 2026 – Kelompok 16